2022

Oleh: M. Maghfur Qumaidi

"Pi, tak ada kegiatan untuk diliput," tulis pesan singkat salah seorang binaan Jurnalis di WhatsApp handphone saya.  Agak lama saya berpikir, dan tidak langsung respon, karena beberapa hari tidak ada kegiatan, setelah Class Meeting seminggu yang lalu.  Betapa semangatnya mereka, ungkap saya dalam hati. Padahal saya berpikir agar mereka istirahat menikmati liburan.

"Pi, kalau ngga ada liputan atau kegiatan-kegiatan, event gitu rasanya kaya kurang. Ndak enak, Pi. Diem-diem di rumah he he," lanjutnya setelah tidak saya tanggapi agak lama. Kemudian saya menugaskan meliput, meski sebenarnya kegiatan itu tidak ingin saya liput, karena skala kegiatan terlalu kecil, dan masih berangkai dengan kegiatan yang lalu. Sungguh luar biasa, sekali duduk-duduk di Gasebo Madrasah, tulisan cantik terkirim di pesan WhatsApp saya. Sedikit sentuhan edit, tulisan mereka pun tayang di Teropong Madrasah. Mata mereka berbinar,  dalam hati saya, luar biasa hasil tulisan dan semangatnya.

Pikiran pun saya teringat kata-kata seorang teman, biarkan anak-anak santai.

Kemudian saya penasaran, apa sebenarnya divinisi santai, seperti biasa saya googling sebagai cara cepat untuk mencari informasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata santai adalah bebas dari rasa ketegangan. Arti lainnya dari santai adalah dalam keadaan bebas dan senggang. Kemudian saya juga mencari apa yang menyebabkan tegang,  ternyata banyak faktor , di antaranya terjadi dilema antara keinginan harapan, atau mungkin juga karena pikiran kosong yang menyebabkan kondisi psikologis justru tidak tenang. 

Terlepas dari itu saya mencoba menghubungkan kebiasaan liputan dalam kegiatan jurnalistik, entah mendengarkan pidato, atau wawancara. 

"Pi, saya tidak bisa wawancara dengan Kabid Pendma. Beliau keburu pergi," ucap beberapa anak yang bertugas. Raut wajahnya tampak kecewa. Meski saya selalu bilang, "Tidak apa-apa, pidato beliau saja yang kita tulis. Tulisan ini sudah keren, sudah cukup untuk menjadi berita," ucap saya ketika mengibur para crew pemburu berita itu.

Meski kadang kata-kata saya tidak bisa mengubah rasa kecewanya, saya bisa membaca raut wajah-wajah polosnya yang tidak puas.

Kembali pada kebiasaan anak-anak  literasi, ternyata mereka merasa santai dan puas ketika berhasil menulis berita, dan berita mereka tayang di laman Tropong Madrasah, media anak-anak jurnalistik  dalam menyebarkan berita.

Dari sudut tertentu, mungkin melakukan sesuatu menjadi beban. Namun, bisa juga terjadi sebaliknya, bila berbuat sesuatu maka akan merasa santai dan terpuaskan. Ukuran kepuasan setiap orang berbeda, demikian pula perasaan santai. Bagi para penulis atau jurnalis akan puas dan santai ketika mereka bisa mengeksplorasi apa yang ada dalam benaknya.

Salam literasi

Rabu, 29 Juni 2022 MTsN 7 Kediri mengadakan kegiatan pembekalan SKAL untuk semua kelas 8. Pembekalan dilaksanakan di ruang kelas sesuai dengan nomor busnya masing-masing.  Kegiatan dimulai pada pukul 07. 00  hingga 09.00 WIB. SKAL rencananya  dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2022 hingga 04 Juli 2022 dengan tujuan pulau Bali. 

Pembekalan dilakukan oleh setiap masing-masing guru pendamping, mereka menjelaskan peraturan- peraturan selama SKAL, di antaranya dilarang membawa rokok, tidak boleh membawa barang tajam, dan menyimpan foto atau video porno. 

 Selain itu diharapkan peserta membawa obat-obatan dan minum antimo sebelum berangkat, dan diharuskan menggunakan seragam atau kaos yang telah ditentukan. Dan tidak lupa juga membawa alat shalat, alat mandi, baju ganti, dan juga alat-alat lain sesuai keperluan masing-masing. 

Diawal pembekalan SKAL, siswa-siswi mendapatkan topi dan juga kaos yang akan dipakai pada hari ke tiga. 

"Tujuan dari kegiatan skal ini yang pertama sudah menjadi agenda rutin dari madrasah, intinya untuk pengenalan lingkungan. Bagaimana cara bergaul, bagaimana cara berteman dan sebagainya. Yang kedua itu memang tugas tugas siswa, itu kan harus ada yang dilaksanakan tidak hanya refreshing saja, tapi juga ada tugas yang harus dikerjakan untuk kemajuan madrasah." Ungkap Muksin Zeni selaku Waka Kesiswaan dan juga panitia dalam kegiatan.

Persiapan yang dilakukan mulai dari segi apa pun, tetap di persiapkan dan dari segi fisik maupun mental, karena perjalananannya sangat jauh.

Tidak hanya refreshing,, siswa siswi pun diberikan tugas karya tulis dan juga bimbingan bimbingan yang telah dilakukan sebelum keberangkatan. Bimbingan seperti bimbel bahasa inggris, tulis menulis dan juga bimbingan sholat seperti shalat jama', shalat qasar dan juga shalat jama' qasar. 


Fotografer: Camilla Fhadillah Arifin

Penulis Berita: Nuzulin Ladayka Nur 

Editor: M.Q. Jurnalis 

Hari ini rapat perdana kepala madrasah baru bersama seluruh dewan guru dan karyawan MTsN 7 Kediri. Rapat dilaksanakan di gedung meeting room madrasah. Suasana rapat nampak semarak dan penuh keterbukaan. Memang tak banyak perubahan dalam struktur organisasi madrasah.

"Bapak/ibu memang tidak banyak yang berubah, mungkin hanya beberapa saja yang saya sesuaikan. Saya mengikuti susunan lama, apalagi untuk program-program dan posisi yang sudah berjalan," ungkap Abas Shofwan, S.Pd., M.Pd.I. mengawali rapat.

Abas menjelaskan tentang tupoksi dari masing-masing bagian. Diharapkan siapa pun yang tertulis dalam surat keputusan tersebut untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Guru yang sebelumnya bertugas di MTsN 6 Kediri juga menyampaikan tentang pelayanan prima. Pelayanan tersebut harus dilaksanakan dengan baik oleh semua unsur.

"Pelayanan prima adalah bagian yang harus kita utamakan," ucapnya. 

Abas berharap pelayanan tersebut meliputi administrasi dan pembelajaran. Secara administrasi pelayanan dilaksanakan oleh Tata Usaha, sedangkan untuk pembelajaran dilaksanakan oleh guru. 

"Untuk itu semua yang terkait dengan pembelajaran harus dilengkapi termasuk perangkat pembelajaran, dan lain sebagainya," jelasnya. Dia berharap semua kebutuhan yang menyangkut kepentingan madrasah harus dikomunikasikan.

"Bapak Ibu saya menggunakan pendekatan koordinatif, sehingga ada masalah apa pun harus kita koordinasikan, semua masalah harus diselesaikan secara bersama-sama," ungkap aktivis Pramuka tersebut. Terlepas dari itu dia juga mengharapkan semua program di madrasah dipastikan dapat berjalan dengan baik.

"Semua program madrasah harus bersinergi, baik Literasi, Adiwiyata, moderasi, dan program-program lain, sehingga tercipta kebersamaan, dan pada lanjutannya dapat meningkatkan prestasi siswa madrasah," ucapnya sebelum menutup sambutannya.

Sahroeni, S.Pd., M.Si. menyampaikan tentang tupoksi yang terkait dengan kurikulum, mulai tugas mengajar, jadwal pelajaran, piket, dan lain sebagainya.

"Bapak ibu saya berusaha mengakomodasi semua usulan dari bapak ibu sekalian. Jika masih ada yang kurang sudah saya tata sedemikian rupa namun tetap tidak bisa. Saya ingin Pak Imam hanya mengajar 24 jam, sebagaimana usulan beliau sebelum pembagian jam pelajaran. Namun, setelah saya berikan Pak Faqori dan Pak Ali Mashar ternyata waktunya tidak cukup, dia mengajar sampai siang. Karena idealnya jam mengajar Penjaskes harus selesai jam 10.00. Sekali lagi saya mohon maaf," ucapnya

Dia juga menjelaskan tentang piket, terpaksa tidak bisa mengakomodasi beberapa usulan bapak ibu yang tidak mau dipiketkan. 

"Terus terang ini sudah tidak ada orang, karena semua jam guru sudah sangat penuh. Jadi terpaksa harus saya beri piket," ungkap Waka kurikulum MTsN 7 Kediri tersebut.

Usai rapat berlangsung, Abas Shofwan mengumpulkan para ketua program untuk mengkoordinasikan dan  penjelasan tentang masing-masing program di madrasah. Abas berharap semua program di madrasah dapat berjalan dengan baik, dan semua program yang dicanangkan untuk dilaksanakan.

Reporter, Penulis berita, Editor: MQ Jurnalistik

Tanggal 7 Juni 2022, MTsN 7 Kediri resmi dinahkodai oleh kepala Madrasah baru. Abas Shofwan, S.Pd.,M.Pd.I. menggantikan Muhammad Zainuddin, S.Pd.,M.Pd.I. yang hampir tujuh tahun memimpin madrasah yang berada di jalan Kebonsari no 1 kencong Kepung tersebut.

Hari ini Pak Abas sapaan akrab kepala Madrasah baru itu mengadakan tasyakuran. Para kolega telah diundang.

"Tidak ada kata lain selain matur swun, matur swun, matur swun," ucapnya sebelum membuka sambutannya dengan wajah semringah.

Abas Shofwan melanjutkan ucapanya. Bahwa apa yang terjadi pada dirinya karena teman-temannya telah mendoakannya. Dia juga mengenang masa-masa ketika pertama diangkat sebagai guru di MTsN 6 Kediri, ketika berangkat dan pulang naik sepeda onta.

"Saat itu saya belum memiliki motor untuk berangkat dan pulang mengajar," ingatnya dengan mata berkaca-kaca.

Suami Heni Nurhamidah itu juga memohon maaf kepada keluarga besar MTsN 6 Kediri.

"Lare nom, biasanya sering marah, dan kasar. Dan itu mungkin sering saya lakukan."

Mantan Waka Humas MTsN 6 Kediri itu mengajak kepada siapa pun untuk meninggalkan sesuatu yang buruk-buruk di masa lalu.

 "Semua kita ganti yang baik-baik," ucapnya.

Suami alumnus Universitas Airlangga Surabaya jurusan teknik informatika itu juga mengucapkan terima kasih kepada mertuanya H. Makali, karena putrinya hingga kini telah mendampinginya dalam situasi apapun.

"Matur swun bapak, putri panjengan telah dan terus mendampingi saya hingga mencapai seperti ini," ucapnya terharu sambil menahan tetesan air matanya.

Usai Abas Shofwan menyampaikan sambutannya, Imam Mustafa salah satu guru senior mengungkapkan kesannya tentang pria yang saat ini tinggal di  Dusun Sumberejo Desa Pranggang Plosoklaten itu.

"Yang paling saya ingat, ketika Pak Abas menangis saat pemilihan Waka. Tapi semua sudah terjawab hari ini. Pak Abas sukses dengan apa yang ia lakukan," ungkap Imam Sabil terus melanjutkan kenangannya tentang sosok Abas Shofwan.

Reporter, Penulis berita, dan editor: M.Q Jurnalis

 Jum'at 24 Juni 2022 lalu MTsN 7 Kediri mengadakan kegiatan istighosah. Kegiatan tersebut   bertujuan untuk mendoakan agar siswa-siswi diberi keselamatan dalam mengikuti program SKAL. Istighosah dimulai pada pukul 07.30 WIB.  Istighosah terbagi menjadi dua bagian. Pertama untuk para siswa berada di  masjid pintu timur, yang dipimpin oleh ustadz Nurul Abit Darmawan S.H.I, dan siswi  dipimpin oleh  Ustadz Azmil amin S.Ag.

Sebelum istighosah dimulai semua siswa  melaksanakan sholat Duha. Usai shalat Dhuha melaksakan istighosah.

Setelah kegiatan istighosah siswa kelas 8 mengikuti pengarahan Salat Jama' Qosor.

Ustadz Nurul Abit Darmawan salah satu pemateri mengatakan,  "Nanti ada pangarahan untuk kelas 8 yang mau berangkat SKAL dan doa ini ditunjukan agar semuanya di berikan kelancaran dan keselamatan terutama kelas 8 yang mau berangkat SKAL."

Mazida Izzati Aulia kelas 7 juga turut mendoakan Kakak Kelasnya. 

"Semoga perjalanan SKAL kelas 8 berjalan lancar pastinya dan diberi kemudahan sehingga tempat tujuan. Dan semoga kelas 8 pulang dengan keadaan selamat seperti semula," ucapnya usai mengikuti kegiatan istighosah.


Reporter: Leni Puspita Anggraini

Fotografer: Ananda Dwi Nabila Hasna

Penulis berita: Ananda Dwi Nabila Hasna

Editor: Okti. Tim jurnalistik

 Kamis, 23 Juni 2022.  Telah dilaksakan pisah sambut kepala lama  MTsN 1 Kediri, Dra. Fikrotul Azizah, M.Ag. kepada Kepala madrasah baru Muhammad Zainuddin, S.Pd., M.Pd.I. kegiatan dimulai pukul 08.30. WIB, bertempat di Aula MTsN 1 Kediri, dihadiri oleh para pejabat kantor kemenag Kab Kediri, Muspika, komite, dan pihak-pihak terkait. 


Dalam sambutannya, kepala madrasah lama Dra. Fikrotul Azizah, M.Ag. menyampaikan permohonan maafnya selama memimpin MTsN 1 Kediri dalam waktu yang sangat singkat. Dia juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh dewan guru yang aktif membimbing hingga banyak siswa berprestasi. Bahkan hingga tingkat internasional. Sebagaimana yang dibacakan oleh Amar Achfas, sebanyak 160 kejuaraan dimenangkan oleh MTsN 1 Kediri.

Sementara itu Muhammad Zainuddin, S.Pd., M.Pd .I. bernostalgia bahwa dirinya pernah menjadi honorer di tempat tersebut. Dia menyatakan bahwa MTsN 1 Kediri adalah MTsN Model Pare. 

"Saya dulu ketika jadi kepala Madrasah di MTsN lain. Selalu berpikir untuk mengejar MTsN 1 Kediri.  Sekarang saya di sini, ganti saya yang di kejar-kejar," ucap mantan kepala MTsN 7 Kediri sambil berkelakar.

Dr. Zuhri, S.Ag., M.Si. mengapresiasi kepada Fikrotul Azizah karena telah banyak menorehkan prestasi. Baik nasional maupun internasional. Kepala Kemenag Kabupaten Kediri itu juga menitipkan kepala yang baru untuk diajak bekerjasama untuk memajukan madrasah. Selain itu Zuhri berpesan kepada Zainuddin untuk bersaing dalam kebaikan terutama dalam bidang literasi dengan MTsN 7 Kediri.

Abas Shofwan ditemui secara terpisah saat ditemui tim jurnalistik, menyampaikan selamat bertugas.

"Bapak Zainuddin semoga amanah dan bisa menularkan semangat literasi di MTsN 1 Kediri," ucapnya.

Reportase, Penulis berita,  dan Editor: MQ Jurnalistik.

Kamis, 23 Juni 2022.  Telah dilaksakan pisah sambut kepala lama  MTsN 1 Kediri, Dra. Fikrotul Azizah, M.Ag. kepada Kepala madrasah baru Muhammad Zainuddin, S.Pd., M.Pd.I. kegiatan dimulai pukul 08.30. WIB, bertempat di Aula MTsN 1 Kediri, dihadiri oleh para pejabat kantor kemenag Kab Kediri, Muspika, komite, dan pihak-pihak terkait. 


Dalam sambutannya, kepala madrasah lama Dra. Fikrotul Azizah, M.Ag. menyampaikan permohonan maafnya selama memimpin MTsN 1 Kediri dalam waktu yang sangat singkat. Dia juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh dewan guru yang aktif membimbing hingga banyak siswa berprestasi. Bahkan hingga tingkat internasional. Sebagaimana yang dibacakan oleh Amar Achfas, sebanyak 160 kejuaraan dimenangkan oleh MTsN 1 Kediri.

Sementara itu Muhammad Zainuddin, S.Pd., M.Pd .I. bernostalgia bahwa dirinya pernah menjadi honorer di tempat tersebut. Dia menyatakan bahwa MTsN 1 Kediri adalah MTsN Model Pare. 

"Saya dulu ketika jadi kepala Madrasah di MTsN lain. Selalu berpikir untuk mengejar MTsN 1 Kediri.  Sekarang saya di sini, ganti saya yang di kejar-kejar," ucap mantan kepala MTsN 7 Kediri sambil berkelakar.

Dr. Zuhri, S.Ag., M.Si. mengapresiasi kepada Fikrotul Azizah karena telah banyak menorehkan prestasi. Baik nasional maupun internasional. Kepala Kemenag Kabupaten Kediri itu juga menitipkan kepala yang baru untuk diajak bekerjasama untuk memajukan madrasah. Selain itu Zuhri berpesan kepada Zainuddin untuk bersaing dalam kebaikan terutama dalam bidang literasi dengan MTsN 7 Kediri.

Abas Shofwan ditemui secara terpisah saat ditemui tim jurnalistik, menyampaikan selamat bertugas.

"Bapak Zainuddin semoga amanah dan bisa menularkan semangat literasi di MTsN 1 Kediri," ucapnya.

Reportase, Penulis berita,  dan Editor: MQ Jurnalistik.

 Kamis, 23 Juni 2022.  Telah dilaksakan pisah sambut kepala lama  MTsN 1 Kediri, Dra. Fikrotul Azizah, M.Ag. kepada Kepala madrasah baru Muhammad Zainuddin, S.Pd., M.Pd.I. kegiatan dimulai pukul 08.30. WIB, bertempat di Aula MTsN 1 Kediri, dihadiri oleh para pejabat kantor kemenag Kab Kediri, Muspika, komite, dan pihak-pihak terkait. 

Dalam sambutannya, kepala madrasah lama Dra. Fikrotul Azizah, M.Ag. menyampaikan permohonan maafnya selama memimpin MTsN 1 Kediri dalam waktu yang sangat singkat. Dan terimakasih kepada seluruh dewan guru aktif membimbing hingga banyak siswa berprestasi. Bahkan hingga tingkat internasional.

Sementara itu Muhammad Zainuddin, S.Pd., M.Pd .I. bernostalgia bahwa dirinya pernah menjadi honorer di tempat tersebut. Dia menyatakan bahwa MTsN 1 Kediri adalah MTsN Model Pare. 

"Saya dulu ketika jadi kepala Madrasah di MTsN lain. Selalu berpikir untuk mengejar Pare.  Sekarang saya di sini, ganti saya yang di kejar-kejar," ucap mantan kepala MTsN 7 Kediri sambil berkelakar.

Dr. Zuhri, S.Ag., M.Si. mengapresiasi kepada Fikrotul Azizah karena telah banyak menorehkan prestasi. Baik nasional maupun internasional. Kepala Kemenag Kabupaten Kediri itu juga menitipkan kepala yang baru untuk diajak bekerjasama untuk memajukan madrasah. Selain itu Zuhri berpesan kepada Zainuddin untuk bersaing dalam kebaikan terutama dalam bidang literasi dengan MTsN 7 Kediri.

Abas Shofwan ditemui secara terpisah saat ditemui tim jurnalistik, menyampaikan selamat.

"Selamat bertugas ditempat yg baru Bapak Zainuddin semoga amanah dan bisa menularkan semangat literasi di MTsN 1 Kediri."

Reporter, Penulis berita, dan editor 

Rabu, 22 Juni 2022 MTsN 7 Kediri melaksanakan kegiatan class meet hari ke lima. Class meet hari ini adalah penilaian kelengkapan, kerapian, kekreatifan, dan kebersihan masing - masing kelas. Penilaian ini dimulai pada pukul 08.00 WIB oleh Septa Hendrawan dan juga Istiqamah selaku juri penilaian kelas untuk kelas tujuh. Penilaian kelas delapan oleh Wiwin dan juga Mukhlisotin.

Kami juga mewawancarai salah satu siswa kelas 8B yaitu Jibril Adam fauzuna

 “Persiapannya tentu mungkin awalannya pengumpulan dana dari temen-temen setelah itu menyusun konsep konsep, kita menjunjung konsep namanya majalah gantung atau Mading gantung jadi semua karya kita itu kita gantungkan karena memang ini inovasi baru memang gedungnya tidak boleh di paku jadi kita gantung.

 "Setelah mendekor kelas itu mungkin ide ide kita sudah tersalurkan mungkin sekarang tinggal deg-degannya, ini dah juara atau tidak."

"Harapannya mungkin kelasnya lebih enak dipandang, lebih bagus, terus lebih indah. Dan harapannya mungkin bisa menjadi juara kelas dalam lomba kebersihan kelas ini. Dan terimakasih kepada teman-teman saya yang sudah membantu dan bergotong royong dalam menyukseskan lomba kebersihan kelas ini”

Dan kami juga mewawancarai siswa kelas 7C yaitu Aisyah Amelia.

"Persiapannya tentu banyak bahan bahan yang disiapkan contohnya kertas, rak, sterofome, tali dan lain-lain, " ucapnya.

Herapanya adalah mendapatkan yang terbaik untuk kelas 7C.

"Berharap menjadi yang terbaik," imbuhnya dengan wajah tegang menunggu.

Reporter: Ananda Dwi Nabila Hasna

Fotografer: Avasna Syaputra Pratama, Muhammad Ihsan Al-Khamid 

Penulis berita: Camila Fadhiilah Arifin 

Editor: M.Q Jurnalis

Selasa, 21 Juni 2022 MTsN 7 Kediri melaksanakan kegiatan Class meet hari ke empat, yaitu lomba petugas upacara untuk kelas tujuh. Kegiatan ini dilaksanakan gerbang timur belakang madrasah. Pukul 07.00 WIB peserta segera berkumpul di belakang madrasah bersama dengan kelompok masing - masing. 

Sebelum perlombaan dimulai, setiap kelompok yang diwakilkan oleh salah satu peserta dari petugas upacara untuk segera mengambil nomor undian yang telah disediakan. 

Perlombaan dimulai dengan persembahan pertama dari kelas 7A dan dilanjutkan dengan kelas 7D, dan seterusnya hingga terakhir adalah kelas 7I. 


Kegiatan berlangsung dengan tertib hingga selesai pada pukul 10.00 WIB, hingga akhirnya para peserta petugas upacara dan siswa yang menyaksikan segera berbaur pergi ke kelas meninggalkan lapangan dan segera pulang ke rumah masing - masing. 

Ahmad Fakhori Amin selaku juri petugas upacara menyampaikan bahwa aspek yang dibilang dalam lomba upacara menyangkut beberapa aspek dari protokol, komandan dan juga pengibar bendera.

"Aspek yang dinilai dari setiap peserta petugas upacara diantaranya adalah pembawa acara, kemudian komandan, dan pengibar bendera." Jelas Ahmad Fakhori.

"Penampilan peserta, suara, tempo pengaturan acara, dan juga penguasaan materi yang dibaca termasuk aspek yang dinilai dari pembawa acara. Kemudian komandan yaitu penampilan, kedisiplinan, suara dan juga ada penjiwaan. Di pengibar bendera ada juga aspek yang dinilai seperti kekompakan, penguasaan teknik mulai dari teknik mengaitkan, menarik, dan sebagainya." Tungkas Ahmad Fakhori. 

Di akhir kegiatan class meet petugas upacara, tim jurnalis juga berwawancara dengan salah satu dari petugas upacara yaitu Nabila Zahra Ajeng Pramesti yang menyampaikan "Lega terus kaya sudah tidak ada kewajiban lagi, dan juga harapan nya menang serta dipilih saat ada kegiatan upacara." 

Najwa Tsuroyya Faiq juga mengatakan bahwa dia sangat gugup dan deg deg an, apalagi ini adalah sebuah tugas yang sudah dipercayakan oleh wali kelas dan juga teman - teman.


Reporter: Muhammad Ihsan Al-Khamid 

Fotografer: Avansa Syaputra Pratama 

Penulis berita: Nuzulin Ladayka Nur 

Editor: M.Q. Jurnalis 

 Senin, 20 Juni 2020. Direncanakan MTsN 7 Kediri akan mengadakan Studi Kenal Alam dan Lingkungan pada tanggal 30 Juni hingga 4 Juli 2022 yang akan datang di Bali. Kegiatan tersebut akan diikuti oleh siswa kelas 8, kurang lebih 300 peserta. Hari ini diadakan pengarahan untuk penulisan karya tulis. 


Dalam pengarahannya M. Maghfur Qumaidi, S.Pd., M.Si selaku koordinator Penulisan karya tulis mengatakan, Bahwa kegiatan SKAL bertujuan untuk pembelajaran. Sehingga kegiatan tersebut harus ada output atau hasil yang diperoleh. Para peserta benar-benar mendapatkan hasil. Bukan hanya foto-foto selfi atau oleh-oleh makanan, kaos, dan lain-lain. Tapi benar-benar mendapatkan data secara kongrit. Bisa dengan wawancara, mengamati,  menganalisa, dan yang terakhir menuangkannya dalam bentuk tulisan. Untuk itu semua harus memahami bahwa kegiatan ini bukan murni rekreasi atau bersenang-senang. Karena lembaga pendidikan, apapun yang dilakukan adalah bagian dari proses pembelajaran.  

"Tulisan-tulisan itu nanti akan dibuat buku antologi, dan semua peserta wajib menulis," ungkap Maghfur sebelum mengakhiri arahannya.

Dalam kegiatan kepenulisan terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah menulis wisata, dan yang kedua menulis moderasi beragama. Untuk menulis wisata semua peserta diwajibkan untuk menulis, sedangkan untuk moderasi ditulis oleh beberapa siswa yang dipilih kurang lebih berjumlah 30 anak.

Muhammad Arwani, S.Pd.I. Selaku pembina literasi juga menambahkan, bahwa banyak tema-tema yang diangkat dalam menulis selama SKAL.  Terutama terkait dengan budaya dan masyarakat Bali. 

Sementara itu Azmil Amin, S.Ag. berpendapat, di depan anak-anak penulis moderasi beragama, bahwa dalam menulis moderasi tidak boleh mempertentangkan keyakinan. Tapi lebih pada arah bagaimana masyarakat bertoleransi dengan keyakinan yang berbeda."

"Program ini tidak hanya sekedar menulis tapi di sana nanti ada forum diskusi lintas agama, yang dihadiri oleh pengurus PW NU Bali, ketua yayasan Kasih Bunda, dan pemuka agama Hindu," ucap Maghfur ditemui secara terpisah oleh tim Jurnalistik.

Reporter.     : Putri Chakiki 

Penulis berita: Oktiana Fitria Candra Vinata.

Editor.          : Tim Jurnalistik




 Catatan : M. Maghfur Qumaidi

 Pimpinan Redaksi Teropong Madrasah

Tanggal 7 Juni 2022 dini hari merupakan moment penting yang patut dicatat.

Ketika bapak kepala madrasah lama berkabar akan ada pelantikan. Filling saya, beliau akan meninggalkan MTsN 7 Kediri. Pagi bakda salat subuh pun saya perjelas, ternyata benar dugaan itu. Dan saya diminta menghendel semua materi untuk presentasi karena beliau pasti datang terlambat.  

Sebagai orang bawah tentu berharap dipimpin oleh sosok yang terbaik.

Saat acara berlangsung usai saya mengisi materi, saya pun mendapat kabar dari kolega. Bahwa Bapak Abas Shofwan, S.Pd., M.Pd.I. menggantikan Bapak Muhammad Zainuddin, S.Pd.I., M.Pd.I. saya pun tersenyum dalam hati. Sosok Pak Abas bukanlah sosok yang asing bagi kami.

Saat acara Rakorev,  jeda kegiatan tiba-tiba beliau muncul. Kami pun berpelukan seperti sahabat yang lama tidak bertemu. Tapi, pelukan itu segera saya lepas. Karena saya ingat bahwa dia atasan saya. Saya pun mengucapkan selamat pada beliau. Dan "Akhirnya sampai juga, dan kita bertemu di sini," ucap saya padanya. Seperti biasa dia menebar tawa tidak bisa menutupi kegembiraannya. Kejadian itu seperti dramatis, tapi itu adalah fakta yang terjadi.

Pikiran saya pun melayang tentang pertemuan kami di LPMP Batu Malang, kebetulan dia satu kamar dengan saya. Dia banyak bercerita tentang kedukaan dalam menghadapi situasi, serta orang-orang yang selalu mensuportnya. Tentu saya tidak ingin bercerita tentang hal itu, karena saya diminta untuk merahasiakan semua. Dan itu pun masuk memori saya.

Namun, saat bercerita di wajahnya tidak terlihat sorot kebencian. Bahkan dia menyampaikan pada saya sambil diiringi oleh derai tawa.

"Saya akan mengambil hikmah, dan ingin belajar memahami," ucapnya.

Meski laki-laki dari dua putra itu terkenal dalam bidang kepramukaan. Tapi tetap saya curigai selalu ada di balik setiap event-event siswa. Beberapa kali siswa bimbingan LKTI saya berhadapan dengan siswa MTsN 6 Kediri. Saat itu pula keberuntungan tidak banyak berpihak pada kami, "kalah".

Terkait dengan LKTI ada dua madrasah di kabupaten dan kota Kediri yang membuat saya harus mengerutkan jidad dan membuat ketir-ketir. Pertama MTsN 2 Kota kediri, yang kebetulan ada nama besar di sana dia adalah Bu Enik Kurniawati. Beliau adalah sosok gigih dan berkali-kali mengantarkan siswanya dalam ajang LKTI tingkat Nasional. Dia adalah teman seangkatan di MAN 3 Kota Kediri (Sekarang MAN 2 Kota Kediri).

Yang kedua adalah MTsN 6 Kediri. Walau madrasah tersebut sangat unggul di kepramukaan dibawah komando Pak Abas. Namun, sepertinya juga ingin merebut prestasi yang lain. Tentu keinginan itu tidak main-main, pasti ingin mendulang sukses seperti kegiatan kepramukaannya. Semua itu terbukti, siswa kami harus bertekuk lutut dalam ajang LKTI di MAN 2 Kota Kediri. Siswa bimbingan saya harus tersisih. Saya selalu terpikir Pasti ada nama Abas Shafwan dibalik kekalahan kami.

Terlepas dari itu. Bersama MTsN 7 Kediri kami pernah mengikuti LIPM. Lagi-lagi di kabupaten kami harus berhadapan dengan MTsN 6 Kediri. Saat itu saya bersama Pak Muksin Zeni Supraba membawa portofolio yang kami garap berminggu-minggu bersama tim literasi. Portofolio kami tipis. Kami sempat pasrah, melihat portofolio MTsN 6 Kediri yang tebalnya mungkin 5 kali lipat. Lagi-lagi Pak Abas yang mengawal MTsN 6 Kediri. Saya berpikiran dia dibalik pembuat portofolio setebal itu. Meski saat itu kami yang memang.

Saya juga masih mencatat ketika gencar-gencarnya literasi dan gandrung dalam lomba menulis. Saya juga berhadapan dengan beliau, dalam lomba menulis bertemakan "Pendidikan Karakter," dia menulis tentang kepramukaan dan saya menulis tentang pesantren. Ketika di LPMP Batu, kami juga sempat adu argumen, yang intinya Pramuka dapat menjadi alternatif pembentukan karakter peserta didik. Saya juga bersikukuh, bahwa pesantren adalah pengawal moral dan pembentuk karakter. Saya tidak ingin menyebut pemenangnya, karena hadiah sebesar 2,5 juta itu sudah saya habiskan. Sepertinya jiwa pramukanya bukan hanya mendarah daging, tapi  sudah menjadi nafas bagi alumnus MAN 2 Kota Kediri itu (dia adik Alumni saya).

Agak lama kami tidak berjumpa. Kalaulah bertemu mungkin melalui media sosial atau WhatsApp terkait dengan penerbitan buku, karena kebetulan saya berkecimpung dalam bidang literasi perbukuan, dan saya adalah editor dari dua bukunya di antara buku-buku yang dia  tulis. Dia juga sosok penulis yang banyak melahirkan buku.

Meski tak berinteraksi secara langsung. Melalui media sosial kami biasa saling menyemangati. Saya selalu mengikuti dan seperti biasa hanya menyematkan tanda jempol untuk beliau, apalagi saat dia mengunggah hasil kejuaraan dalam berbagai event baik siswanya maupun dia sendiri.

Tahun lalu, saya dan 6 orang guru MTsN 7 Kediri dipaksa untuk ikut lomba guru  berprestasi tingkat nasional oleh bapak kepala madrasah yang lama. Lagi-lagi nama Abas Shofwan muncul dalam pengumuman sebagai kompetitor. Dalam perjalanan kami harus bertekuk lutut, dan tersisih. Pak Abas melaju hingga tingkat nasional dan ditetapkan menjadi juara 1. Sebagai kompetitor tentu kami iri, namun tidak dengki. Saat itu dalam hati, saya ingin menghubungi dan berguru padanya. Tapi karena kesibukan, hingga kini tak sempat.

Takdir itu telah menjawab angan-angan saya. Dan Abas Shofwan, S.Pd., M.Pd.I. dilantik menjadi kepala MTsN 7 Kediri. Selamat Pak Abas, semoga setiap pertemuan membawa keberkahan, dan yang paling penting saya ingin meminta kunci sukses itu. Dan yang lebih penting, semoga prestasi-prestasi panjengan bisa menginspirasi bagi semuanya. Selamat datang sosok inspiratif, kami menunggu karya-karya terbaikmu di MTsN 7 Kediri. Selamat Pak Abas perjuangan itu ternyata tak ada yang sia-sia. Tapi feling saya sepertinya membaca Pak Abas Tak akan lama di MTsN 7 Kediri, karena ingin melanjutkan perjalanannya. Menapaki karirnya. 


Salam literasi


Karya: Siti Muthorikah


Mengetuk dalam rinai senyuman

Berlalu dalam rinai isakan


Datang dalam ketiadasempurnaan

Meninggalkan dengan penyempurnaan


Bertahan di atas terpaan

Meredakan setiap goncangan


Memunculkan ide, melepaskan bimbang

Merangkai persepsi, menghempaskan gamang


Terima kasih untuk saptawarsa yang berhargai ini

Akan kami semat dengan tinta emas surgawi


Selamat jalan 

Semoga selalu terdepan

Dan sukses selalu terjabat tangan


(Kediri, 18 Juni 2022)

Sabtu, 18 Juni 2022 MTsN 7 Kediri melaksanakan kegiatan Pisah Sambut Kepala MTsN 7 Kediri yang lama dan baru yang dihadiri oleh Kepala kantor kementrian Agama Kabupaten Kediri, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Bapak Kyai Haji Ma'sum Shafaat, Pengawas MTsN 7 Kediri, Kepala MTsN 7 Kediri yang lama dan baru, Mustika Kecamatan Kepung, Kepala Madrasah Negeri di Lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Kepala Komite MTsN 7 Kediri, Kepala SD MI SMP Negeri di Lingkungan Kecamatan Kepung, Ketua KKM MTsN 7 Kediri, Jajaran Fungsionalis Bapak Ibu Guru Karyawan Karyawati MTsN 7 Kediri dan MTsN 6 Kediri. Acara tersebut berlangsung di aula MTsN 7 Kediri pada pukul 08.00 WIB hingga 10.00 WIB yang dihadiri oleh 50 Orang.

Muhammad Zainuddin selaku kepala MTsN 7 Kediri yang lama menyampaikan bahwa beliau telah memimpin selama 6 tahun 5 bulan. 

"Hal yang berkesan dari madrasah ini yang pertama adalah semangat bapak ibu guru, semangat anak anak membantu saya menciptakan madrasah yang hebat dan martabat. Madrasah yang moderat, literat, dan berbudaya lingkungan, guru guru kompak, siswanya kompak, wali muridnya luar biasa." Ungkap Zainuddin. 

"Saya di madrasah yang baru tentunya, pertama membawa pengalaman yang ada di MTsN 7, yang kedua jelas mengembangkan madrasah yang sehat disana, meneruskan program program yang disana, jika perlu ya kita kembangkan sesuai dengan keunikan madrasah masing masing. Semua madrasah mempunyai keunikan tersendiri dan mengembangkan keunikan madrasah tersebut." Tungkas Zainuddin.

Abbas Shofwan S.Pd. M.Pd.I selaku kepala MTsN 7 Kediri yang baru mengatakan bahwa lingkungan MTsN 7 Kediri mampu membuat beliau tertarik dan tidak lupa dengan harapannya yang ingin madrasah ini bisa terus berkembang sesuai dengan apa yang sudah ada, kalau bisa di kembangkan ke yang lain lagi. 

Reporter: Muhammad Ihsan Al-Khamid, Indana Dewi Hasanah, Kesya Dwi Putri Ramadani

Dokumentasi: Putri Chakiki 

Fotografer: Avansa Syaputra Pratama 

Penulis Berita: Nuzulin Ladayka Nur 

Editor: Oktiana Fitria Candra Vinata

Catatan : M. Maghfur Qumaidi

Pimpinan Redaksi Teropong Madrasah

Hari ini adalah hari yang bersejarah dan cukup mengharukan. Bapak kepala madrasah yang telah memimpin MTsN 7 Kediri dipindahtugaskan ke MTsN 1 Kediri. 

Tadi siang usai serah terima jabatan kepada Bapak Abas Sofwan kepala madrasah yang baru. Bapak Zainuddin mengumpulkan semua staf dan guru untuk pamitan secara khusus. Seperti biasa beliau sangat irit bicara. Tak banyak yang dia sampaikan. Hanya memohon maaf apabila ada kebijakan yang membuat seluruh komponen madrasah terganggu. Dia berpamitan untuk meninggalkan madrasah yang telah 7 tahun berjalan telah beliau pimpin.

Usai sambutan, menunjuk saya ke depan. Tentu saya bingung. Karena bukan guru senior di antara guru-guru yang lain. Saya pun hanya menyampaikan inti dari perjalanan bersama beliau. Sebelum di MTsN 7 Kediri saya sudah mengenalnya. Saat beliau menjadi Waka kurikulum dan saya menjadi kepala madrasah swasta di kecamatan kepung. Saya dan beliau banyak berkerjasama. Hingga ketika beliau ditugaskan di MTsN 7 Kediri, dan saya mengajar di tempat itu. Bagi saya itu adalah pertemuan kebersamaan yang kedua kalinya.

Mungkin tak banyak yang mengetahui sosok beliau yang sesungguhnya. Beliau adalah sosok pendiam, sampai marahnya pun bisa ditutup dengan diamnya. Luar biasa dalam kemampuan mengolah emosi, hingga tak banyak tahu bila beliau dalam puncak kemarahan. Tetap menutupnya dengan senyum.

Satu hal lagi yang mungkin tak banyak dimiliki oleh seorang pemimpin adalah sifat rendah hatinya. Dia kadang kala rela berada di belakang anak buahnya yang dianggap mampu dan punya potensi. Terlepas dari itu, dia juga tidak pernah melihat status guru di madrasah, baginya siapa pun boleh maju dan berada di depan bila memang mempuni dalam bidang tertentu. Itulah banyak guru di MTsN 7 Kediri, yang bisa terangkat pada puncak prestasinya.

Dengan diamnya siapa pun akan dibuatnya hanyut. Komponen MTsN 7 Kediri pun telah terhipnotis dengan ide-ide beliau, tidak hanya tentang ide Literasi, Adiwiyata, dan dan ide-ide lain dalam memajukan madrasah. 

Terus terang saya dan beliau sering berdiskusi melalui WhatsApp pada malam hari, tentang madrasah terutama literasi. (Diskusi kami bukan rasan-rasan tentang personal madrasah) tapi bagaimana agar madrasah berprestasi.

Sebagai anak buah mungkin saya kurang sopan bila komunikasi dengan beliau sampai tengah malam. Namun, itulah fakta yang saya alami. Tapi, saya tidak ingin membahas itu. Hanya saja saya ingin menyimpulkan, bahwa  beliau bekerja untuk madrasah selama 24 jam setiap hari. Jadi tak benar bila dianggap pasif, atau hanya sekedar duduk di belakang meja.

Bila membahas literasi sebenarnya, dia yang mempunyai andil besar di MTsN 7 Kediri, dan saya hanyalah eksekutor di lapangan, dan program-program literasi adalah kebijakan beliau, tanpa dukungan dan kebijakan beliau tentu kami tim literasi juga tak bisa berbuat apa-apa.

Pak Zainuddin adalah sosok yang nekat. Dalam setiap ajang lomba, beliau selalu bersemangat menyuport anak buahnya, meski kami rasa hanya memiliki kemampuan yang pas-pasan

Teringat LIPM di kanwil Jawa Timur dan MTsN 7 Kediri direkomendasi untuk maju. Saat itu terus terang juga modal nekat, kami hanya bermodal 25 karya siswa, dan 10 karya guru, tapi dalam tenggat satu bulan kami tim literasi harus berjibaku untuk menuntaskan portofolio. Alhamdulillah, berhasil, kami pun ditetapkan sebagai juara.

Kembali tentang literasi. Entah angin apa yang membuat beliau menjadi pencinta buku, dan literat. "Pak. Maghfur, kalau disuruh nulis pusing kepala saya," kata-kata itu terngiang dalam ingatan saya, ketika gerakan literasi di madrasah mau dimulai. Namun, dia sangat mendukung gerakan literasi. Dan Sekarang pun beliau juga ikut menulis buku, dua buku ISBN telah lahir dari tangan beliau, dan satu buku masih proses ISBN. Masih banyak buku-buku antologi lain, di antaranya tentang moderasi beragama sampai jilid 4, dan kebetulan tulisan saya juga berada di buku itu. Selain itu tim moderasi Pak Azmil, Pak Arwani, saya, dan beliau juga menulis tentang madrasah wasyatiah bersama bapak Zuhri Kepala Kemenag Kabupaten Kediri. 

Tidak hanya itu, beliau juga penggiat literasi, dan bersama-sama mendirikan IGMPL bersama Bapak Trianto (Kasi Kelembagaan Kanwil Kemenag Jawa Timur), Bapak Ahmad Syaikhu, dan kepala madrasah lain. Kebetulan saya juga ikut membidani organisasi itu.

Tentang literasi masih ada satu catatan penting, dia dekat dengan anak-anak jurnalis. Dia tak segan-segan melakukan WhatsApp langsung pada Tim jurnalis bila ada berita penting yang harus dimuat. Itulah mengapa dalam kesempatan terakhir ini, anak-anak literasi ingin berfoto dengan beliau.

Sebenarnya masih banyak catatan untuk beliau, seperti caranya meminta maaf pun tidak dengan kata-kata, namun dengan perbuatan. Jika tidak ada yang tahu, mungkin saya tahu tentang raut wajah sedih, dan sumpeknya. Termasuk kecewanya, meski tak diucapkan. 

Bapak Muhammad Zainuddin. Selamat menjadi pemimpin di madrasah yang baru. Semoga tetes air mata kesedihan kami, menjadi penyemangat perjalanan bapak berikutnya. Pasti talenta bapak dalam menggali ide akan membawa kemajuan di madrasah yang baru. Semoga perjalanan panjenengan selalu diiringi dengan keberkahan. Semoga setiap kebaikan yang tertanam menjadi pahala yang terus mengalir. Mohon maaf apabila ada kesalahan dan ketidaksopanan dalam bertutur. 


Salam Literasi

 Jum'at, 17 Juni 2022 MTsN 7 Kediri melaksanakan kegiatan Class  Meet hari ke tiga, yaitu lomba petugas upacara untuk kelas delapan. Kegiatan ini dilaksanakan di gerbang timur belakang madrasah. Pukul 07.00 WIB peserta segera berkumpul di belakang madrasah bersama dengan kelompok kelas masing-masing. 

Perlombaan dimulai dengan persembahan pertama dari kelas 8A dan dilanjutkan dengan kelas 8G, dan seterusnya hingga terakhir adalah kelas 8K.

Kegiatan berlangsung dengan tertib hingga selesai pada pukul 10.00 WIB, hingga akhirnya para peserta petugas upacara dan siswa yang menyaksikan segera berbaur pergi ke kelas meninggalkan lapangan dan segera pulang ke rumah masing masing. 

Ahmad Fakhori Amin selaku juri petugas upacara hari ini menyampaikan aspek yang dinilai dalam lomba upacara menyakut empat aspek dari protokol, komandan dan juga pengibar bendera.

"kedisiplinan, macam" untuk aspek yang dinilai ada mulai dari pembawa acara, ada empat penampilan pesertanya sendiri, suaranya, tempo pengaturan acara, penguasaan materinya yang dibaca, kemudian komandan atau pemimpin upacara, juga ada empat. Penampilan, kedisiplinan, suara, dan juga ada penjiwaan. Pengibar bendera disiplin, kekompakan gerakan ke tiga anak, kemudian penguasaan tekniknya, mulai dari teknik mengaitkan, menarik, dan sebagainya. Kemudian penjiwaannya, penjiwaan arti dari pengibar bendera itu. Itu beberapa penilaian dari tiga aspek pada upacara. Tentunya upacara itu intinya ada di tiga itu, maka dari itu yang dilombakan tiga itu yaitu protokol, komandan, pengibar bendera," ungkap Ahmad Fhakori Amin.

Tidak hanya itu, Jibril Adam Faizuna selaku ketua osis melakukan banyak persiapan bersama dengan anggota osis lainnya untuk kegiatan class meet beberapa hari ini, sarana dan prasarana yang dibutuhkan selama perlombaan.

Muksin Zeni Supraba selaku Waka Kesiswaan menyampaikan gagasannya yaitu "Pertama untuk mendisiplinkan siswa, kedua untuk mentertibkan peraturan yang ada di madrasah, ketiga sebagai jiwa semangat dari upacara tersebut, karena upacara merupakan sebagian dari sejarah bangsa indonesia tentang kemerdekaan indonesia tahun 1945, selanjutnya agar siswa itu bisa lebih memperhatikan bagaimana cara ataupun metode dalam menerapkan sebagai petugas upacara."

"Karena siswa di MTsN 7 Kediri tiap hari senin itu ada upacara, makanya dilombakan biar lebih terkondisikan situasi sebelum menjelang tahun ajaran baru 2022/2023," tungkas Muksin Zeni.

Repoter : Indana Dewi Hasanah 

Fotografer : Afuza Fawaz Arif

Penulis berita : Nuzulin Ladayka Nur

Editor.              : M.Q. Jurnalistik

Jumat, 17 Juni 2022. Tim Adiwiyata MTsN 7 Kediri menyelenggarakan bimtek pembuatan ekobrik di MTsN 7 Kediri. Bimtek ini bertujuan agar siswa siswi dapat berkerja sama untuk mengurangi sampah plastik.

Acara bimtek ini dimulai pada pukul 07.30 WIB, diawali dengan bacaan basmalah. Lalu penjelasan tentang ekobrik dari Bu Tri Lestari  menjelaskan "Eco yang berarti lingkungan dan brick berarti bata jika di gabungkan secara umum menjadi sebuah bata yang ramah lingkungan."

Selanjutnya sambutan dari bapak Abbas Shofwan selaku kepala Madrasah baru MTsN 7 Kediri "Saya baru mengetahui ecobrik ini ketika saya bertemu Bu Istiqomah sama Bu Rika saat presentasi di Surabaya dan mereka memamerkan ecobrik ini Alhamdulillah pada waktu itu ecobrik ini berhasil meraih juara 2 se-Jawa timur. Padahal ini sebenarnya sepele ya hanya plastik yang di padatkan di dalam botol. Jadi ini adalah ide yang bagus bagaimana kita menyelamatkan lingkungan, dan mari kita bersama-sama membersihkan lingkungan dengan cara yang lebih bijak. Kalau biasanya orang menghancurkan plastik itu dengan cara di bakar tetapi itu akan menimbulkan dampak yang lain, dan disini bisa di katakan reduce yaitu mengurangi sampah," ungkap kepala Madrasah baru tersebut.

Dilanjutkan acara inti yaitu bimtek ecobrik yang di bimbing oleh Bu Tri Lestari serta Bu Istiqomah. Para siswa membuat ecobrik dengan setiap ecobrik mempunyai minimal berat 200g, "membuat ecobrik memang sedikit sulit jika belum terbiasa jadi harus sabar ya," ucap Tri Lestari.

Di akhir acara kami juga mewawancarai Bu Tri Lestari "Manfaat dari ecobrik ini sendiri yaitu mengurangi plastik serta bisa dimanfaatkan untuk batu bata, dan ini juga bisa menjadi solusi masa depan jika sampah plastik menumpuk," ungkapnya.

Reporter : Rensi Dwi Handayani

Fotografer : Avansa Syahputra Pratama, Muhammad Ihsan Al-khamid 

Penulis berita : Ananda Dwi Nabila Hasna

Editor.     : M.Q Tim Jurnalistik

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget