July 2021

Oleh: M. Maghfur Qumaidi

Rintik-rintik air hujan membasahi halaman sekolah. Sekolah itu sepi, sepertinya lama tak berpenghuni, padahal tiap pagi sekolah ini ramai, mungkin hanya beberapa hari ini sekolah tak dihuni, karena virus Corona sulit  terkendali, dan beberapa civitas di dalamnya sempat terjangkit.

Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke sekolah, namun aku teringat novel kesayanganku tertinggal, sehingga aku harus mengambilnya. Perasaanku lega, ketika terdengar dari luar ada anak-anak yang sedang berbisik-bisik kecil, dan sedikit bergurau, suara tawanya yang lirih, meski terdengar jelas dari luar. "Aku tidak sendiri," pikirku. Namun, saat aku membuka pintu rasanya sulit.

"Mungkin dikunci dari dalam," gumanku.

Kucoba untuk mengetuk pintu pelan, suara itu tiba-tiba lenyap, berubah menjadi sepi. Bulu kudukku berdiri, angin semilir dan dinginnya rintik hujan menambah cekam suasana. "Kenapa, bulu kudukku merinding, dan ke mana suara cekikikan tadi," batinku. Tapi biarlah, kucoba mengetuk pintu lagi. Tapi aneh, setiap suara kuketuk seperti ada yang menirukan. Aku menghela napas sejenak, "Mungkin anak-anak tadi iseng," bisikku di depan pintu.

Aku pun tetap mengetuk, dan setelah agak lama, aku tak sabar pintu kubuka paksa dengan sekuat tenaga. Namun, tetap tak bisa. Malah pintu kelas disebelahnya terbuka. Pintu itu buka tutup sendiri. Nyaliku semakin menciut, apalagi tiba-tiba ada air hujan yang menetes di kepalaku. "Aneh, padahal hujan sudah mulai reda, kenapa air baru menetes." Pikiranku sambil mengusap air di kepala. Aneh, tiba-tiba ada bau anyir darah, dan air itu juga berwarna merah. Kutengok kanan kiri tetap sepi. Aku tak mendengar apa-apa lagi. Aku pun berjalan ke kelas sebelah, yang pintunya buka tutup. Degan santai kubuka pintu itu, aneh kenapa serapat ini, padahal tadi terbuka. "Hai.. siapa di dalam?" Teriakku agak kencang. Tapi tetap saja senyap, tak ada suara yang menjawabku. Justru pintu kelas sebelah, yang sejak tadi aku ketuk terbuka sendiri. Aku pun melangkah ke tempat itu, dan berhasil membuka ruangan itu. Ada seorang gadis berjilbab membelakangiku, dari bentuk tubuhnya sepertinya Erna, dia teman sebangkuku. Ketepuk punggungnya, "kenapa kamu di sini?" candaku padanya. Dia pun membalikkan badan, pakaiannya lengkap dengan masker. Namun, aneh dia tak bicara apa-apa. "Hai Erna..." Panggilku dengan agak menggoda. Dia pun akhirnya membalikkan badannya. Betapa terkejutnya, setelah masker dibuka, dia tak mempunyai mulut. Aku pun berteriak minta tolong karena ketakutan. Aku terus berteriak sejadi jadinya. Aku bacakan ayat kursi, sambil menangis ketakutan. Pada saat yang sama Kakiku ada yang menarik, aku berpegangan pada pada bangku di depanku "Tolong...." 

"Heh.. sana mandi, dan salat Asar, lihat tu.. hampir Magrib.." kata seorang wanita setengah baya. Dia adalah ibuku, sambil membawa novel yang tadi aku baca sebelum tudir. "Oh aku ketiduran," gumanku sambil menuju kamar mandi.

 Oleh: M. Maghfur Qumaidi

Covid-19 masih pasang surut, bahkan tak ada yang tahu kapan akan berakhir, hingga tidak bisa memastikan kapan pembelajaran tatap muka akan dilaksanakan. Beberapa waktu yang lalu polemik tentang guru  memakan gaji buta, santer terdengar. Tak sedikit masyarakat yang beranggapan, guru tidak lagi memikirkan muridnya, membiarkan begitu saja, dan abai terhadap pembelajaran siswa. Orang tua merasa sangat repot dan pusing kepala karena harus memantau dan mengajari anaknya. Mereka merasa benar-benar repot, karena biasanya orangtua menyerahkan sepenuhnya pada pihak sekolah, dan sekolah pun kadang menjadi kambing hitam atas ketidakpintaran anaknya. Belum lagi guru juga dipersalahkan bila melakukan hukuman ketika anaknya melanggar aturan sekolah. Orangtua benar-benar terima beres.


Kondisi telah berubah, hingga pembelajaran harus dari rumah. Para siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Guru siang malam mengingatkan siswanya agar jangan sampai tertinggal dalam kegiatan pembelajaran daring. Guru juga memandu muridnya apabila mengalami kesulitan, untuk memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. 

Arus komunikasi telah dibuka, tak sedikit wali murid yang berada di grup kelas mengkhawatirkan anaknya, yang berada di kejauhan (pesantren), tertinggal pelajaran. Guru pun berusaha mencarikan solusi agar permasalahan bisa diatasi dan memastikan anaknya tidak tertinggal.

Meski dalam pembelajaran daring guru tidak tampil dengan baju dinas, mereka memakai pakaian biasa, mungkin hanya sarungan, dasteran, kaos oblong, atau pakaian lain. Namun, pemikirannya tentang tugasnya sebagai pendidik tidak pernah berhenti, guru tetap ingin mengantarkan masa depan generasi bangsa, meski dalam kondisi sulit.

Masihkan Anda menganggap guru makan gaji buta? 

 Oleh: Putri Chakiki

Masa remaja adalah di mana seorang anak mulai mengalami banyak perubahan. Mulai dari penampilan fisik, perilaku dan emosi yang sering berubah-ubah. Masa di mana mereka sudah bukan termasuk golongan anak-anak dan juga   

Belum termasuk golongan orang dewasa. 

Masa remaja bisa dikatakan, masa di mana seorang anak mulai mencari jati diri mereka dan juga masa di mana mereka ingin menunjukkan eksistensi diri untuk mendapatkan pengakuan agar keberadaanya bisa di anggap oleh lingkungan yang ada disekitarnya. Rasa ingin tahu yang tinggi, mencoba-coba hal baru yang ada di sekitarnya dan ingin menemukan lingkungan yang cocok bagi dirinya. 

Lingkungan sangat berpengaruh pada perilaku kita. Lingkungan yang baik akan dapat memberikan pengaruh yang baik bagi kita dan lingkungan yang buruk juga akan berpengaruh buruk pula bagi perilaku kita. 

Dalam masa yang serba digital seperti sekarang ini kita dituntut harus cerdas dan berwawasan luas. Kita harus selektif dalam Menerima semua informasi dari luar, Saring setiap informasi yang masuk, Pertimbangkan baik dan buruknya setiap informasi, Jangan pernah ikut-ikutan dalam setiap hal kalau itu membawa dampak kurang baik bagi kita. 

Masa remaja adalah masa berkembang, banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa mengikuti berbagai macam exstra kurikuler di sekolah yang masih bisa di jalankan meskipun masa pandemi. Seperti OSIS, jurnalis, PMR, porsigal dan lain-lain. Kita juga bisa mengikuti berbagai macam lomba secara online seperti LKTI, Olimpiade, menulis artikel, cerpen, puisi dan lain sebagainya. Manfaatkan waktu kita sebaik mungkin. Agar dapat mengisi waktu luang kita dengan benar, isi dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Carilah kegiatan yang bisa menambah pengalaman, wawasan serta kecerdasan kita.

Editor: MQ

Iduladha di tahun ini, kita masih belum bisa berkumpul dengan sanak saudara. Karena terhalang oleh pandemi, ada yang senang berkumpul oleh keluarga, tapi ada juga yang duka karena kehilangan satu dari mereka. Tapi pandemi bukan jarak di antara kita, kita masih bisa memberi kabar, dan berbagi kepada mereka. 



Arti Iduladha adalah merelakan sebagian hartanya untuk dibelikan hewan-hewan qurban, dan di bagikan kepada orang lain agar orang itu bisa merasakan daging kurban itu. Pemerintah melarang melaksanakan salat Iduladha di masjid agar bisa memutus matarantai penyebaran covid-19. Tapi masyarakat sekitar kurang kesadaran, dan kurang peduli tentang protokol kesehatan, Ayo pake masker!! Pake masker harga mati, tidak pake masker bisa mati!

Penulis: Erni Kurnia

Editor.  : Tim Jurnalistik



Selasa, 13 Juli 2021, MTsN 7 Kediri mengadakan kegiatan matsama online yang di laksanakan di ruang meet dan berlangsung pada pukul 07.30 – 09.00 WIB. Kegiatan matsama ini akan berlangsung sampai 3 hari kedepan. Sudah dua kali matsama dilakukan secara virtual dikarenakan dalam masa pandemi.



Dalam kegiatan ini Muhammad Zainuddin selaku kepala madrasah MTsN 7 Kediri Menyampaikan kepada para peserta matsama beserta pendamping tentang visi madrasah, Unggul dalam berpikir, Tidak lupa zikir, Moderat, Literat, Peduli terhadap lingkungan. 


Dari visi madrasah ini akan menjadikan lulusan MTsN 7 Kediri sebagai orang yang cerdas, unggul, moderat dan literat. Muhammad Zainuddin juga menyampaikan bahwa ada 7 progam andalan di MTsN 7 Kediri, yaitu:


1. Madrasah Adiwiyata 

2. Madrasah Literasi

3. Madrasah Digital

4. Madrasah Wasathiyyah

5. Madrasah Sehat

6. Madrasah Riset

7. Madrasah Bilingual



Sebagai ketua Matsama sekaligus waka bidang kesiswaan Muksin Zeni menyampaikan ucapan “Terimakasih dan permohonan maaf kepada seluruh peserta matsama beserta wali murid dan juga menyampaikan kepada seluruh peserta matsama untuk selalu tetap play from home dan berdoa dari rumah, semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa bertatap muka langsung di tahun ajaran 2021/2022.” Dan juga berpesan kepada seluruh peserta matsama “Tetap semangat dalam belajar, berkarya dan berprestasi walaupun di masa  pandemi .”


Kegiatan ini ditutup dengan d’oa yang disampaikan oleh Azmil Amin selaku ketua program Madrasah Wasathiyyah MTsN 7 Kediri.


Reporter: Putri Chakiki

Editor: Mq

Oleh: Putri Chakiki

Senin, 12 Juli 2021 MTsN 7 Kediri rencananya akan melaksanakan (PTM) Pembelajaran Tatap Muka. Hari itu adalah hari dimana kami bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka, bertemu dengan teman dari kelas 7 sampai sekarang kelas 8 yang belum bisa bertemu, kemudian mengenakan seragam yang tahun lalu belum sempat di pakai. 

Namun semua itu hanya wacana saja, dikarenakan angka penyebaran virus corona yang masih tinggi maka akhirnya diterapkannya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran virus ini. Dan hal itu yang mencegah kami untuk melakukan sistem pembelajaran secara tatap muka kembali 

Dikarenakan masih adanya pemberlakuan PPKM Untuk sementara pembelajaran masih dilakukan secara daring atau online 

Agar kita bisa melaksanakan sistem pembelajaran jarak jauh dengan baik. Kita harus mengatur jadwal kegiatan kita dengan benar dan harus dilaksanakan dengan disiplin. Tujuannya agar semua tugas sekolah bisa dikerjakan dengan baik dan tidak tumpang tindih dengan pekerjaan yang lain. Adapun hal yang bisa kita lakukan antara lain:

1. Membuat jadwal kegiatan dengan tujuan agar semua kegiatan terencana dengan baik.

2. Menentukan waktu di setiap kegiatan sesuai jadwal. 

3. Jangan pernah menunda-nunda pekerjaan dan usahakan untuk melakukannya sesegera mungkin. 

4. Berlatih fokus mengerjakan semua kegiatan agar tugas bisa terselesaikan dengan cepat dan mendapatkan hasil yang baik.

Editor: Maghfur

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget