April 2021

 


Pelaku kekerasan ditembak mati oleh aparat di Desa Rebalas, Kecamatan Grati, Pasuruan (29/4/3031). Pelaku tersebut adalah Ardianto (22) warga Desa Watulumbung, Kecamatan Lumbang, Pasuruan. Pelaku digrebek di tempat persembunyiannya di tengah hutan jati. 

Dilansir dari detiknews, saat ditangkap pelaku awalnya melarikan diri dan melempar bondet ke petugas. Petugas pun terpaksa mengambil tembakan dengan menembakkan peluru ke pelaku. Pelaku meninggal dalam perjalanan saat dibawa ke RS Bhayangkara Porong.

Ardianto dan Husalim Andik (25), warga Desa Plosari, Kecamatan Grati melakukan aksi kekerasan kepada Ramadhani (19). Korban dipukul menggunakan peledak bondet hingga meninggal saat dirawat di rumah sakit.


Kedua pelaku melakukan kekerasan karena ingin menguasai motor korban. Kemudian pelaku kabur karena tangannya terluka terkena senjatanya sendiri. Sebelumnya Ardianto sudah melakukan aksi pencurian di dua lokasi yaitu Pandaan dan Sidoarjo.


Penulis: Dinda 8i

Editor: Kiki 7D



Senja begitu indah walau hanya datang sementara. Dibawah jendela aku menatap langit. Senja membuatku mengenang masa-masa indah bersamanya. Dimana ia mengungkapkan perasaannya dengan sepucuk bunga putih ditangannya. Terlihat sederhana tapi bagiku itu terlihat sangat istimewa. Didekapnya tubuhku olehnya di sebuah pohon mahoni, dekapan yang hangat dan nyaman. Senja menjadi saksi awal kisah kita dimulai. Aku tersenyum saat mengenang masa-masa itu. 


Tetapi semua pikiranku tentangnya sirna, saat setetes demi setetes air jatuh membasahi bumi. Tiba-tiba hujan turun deras dikala senja. Kenapa harus hujan? Aku membatin pertanyaanku sendiri. Hujan membuatku kembali teringat akan sebuah kenangan yang tidak pernah aku inginkan. Aku teringat saat dia memilih mengakhirinya. Mengakhiri kenangan-kenangan indah dan mengakhiri kisah kita. Juga dibawah pohon mahoni itu dia meninggalkanku. Disaat itu juga hujan turun, menjadi saksi bahwa kita telah selesai. Tidak, aku tidak boleh menangis. Tapi aku tidak bisa. Aku menangis dibawah pohon mahoni itu. Pohon yang menjadi tempat awal kisah kita sekaligus akhir kisah kita. Aku menangis bersamaan hujan deras yang mengguyur tubuhku. Hanya hujan yang menemaniku saat itu. 


Aku tersenyum getir saat mengenang masa itu.  Aku memandang kosong kearah jendela. Tiba-tiba setetes air membasahi pipiku. Aku menangis lagi. Tidak, aku menggeleng dan menghapus air mataku. Aku sebenarnya benci menangis. Tetapi apa boleh buat? Keadaan yang membuatku terpaksa melakukannya. Bau air yang bercampur dengan tanah dan udara sejuk ini membelai kulitku, membuatku sedikit merasa tenang. Walau tidak ada lagi pelukan hangat yang diberikan olehnya. Aku memeluk diriku sendiri. Tidak mau lagi teringat kenangan-kenangan tersebut.

Penulis: Vaila

Editor. : Dinda





Gempa mengguncang wilayah Sukabumi, Jawa Barat, Selasa 27 April 2021 pukul 16:23:37 WIB. 

Gempa ini tidak berpotensi tsunami. Gempa juga dirasakan sejumlah warga di Jakarta dan Bogor.

laporan dari BMKG tepat pada tanggal 27 April 2021 waktu 16:23:37 WIB terjadi gempa di wilayah (103 km Tenggara KAB-SUKABUMI-JABAR). Mag: 5,6. koordinat: 7.86 LS - 106.87 BT kedalaman: 14 Km

Keterangan: 

103 km Tenggara KAB-SUKABUMI-JABAR


104 km BaratDaya KOTA-SUKABUMI-JABAR


118 km BaratDaya KAB-BANDUNG-JABAR


gempa kedalaman 14 Km ini, tidak berpotensi tsunami. tetapi diharapkan bagi warga Sukabumi dan sekitarnya untuk tetap siaga akan terjadinya gempa susulan.


Reporter : Nadine

Editor      : Kiki


Pondok romadhon MTsN 7 Kediri dilaksanakan tanggal 26 April sampai 06 Mei. Karena tahun ini terjadi pandemi, setiap satu kelas dibagi menjadi 2 kelompok. Supaya tetap menjaga jarak dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Pondok Romadhon dimulai dari pukul  07.30 hingga 09.30 WIB. Kelas 7 A-F tanggal 27 sampai 28 April, kelas 7 G-K tanggal 29 sampai 30 April, kelas 8 A-E tanggal 2 sampai 4 Mei, dan kelas 8 F-J tanggal 5 sampai 6 Mei.



Pukul 07.30 sampai 08.00 WIB tadarus al-quran, selanjutnya pukul 08.00 sampai 09.30 dilanjutkan dengan bahasan-bahasan materi yang diberikan bapak atau ibu guru. "Biasanya pondok romadhon dilakukan 10 hari, saat tidak ada pandemi, berhubung sekarang masih pandemi jadi pondok romadhon hanya dilakukan 2 hari" ujar Azmil Amin saat akan pulang.


Walau sudah satu tahun lebih tidak ke sekolah, siswa siswi tetap semangat melakukan pondok romadhon. Bagi sebagian siswa ada yang berfoto bersama guru agar bisa dijadikan kenang-kenangan, karena baru kali ini siswa siswi bisa belajar tatap muka.


Penulis: Vina 7C

Editor: Dinda 8i

 


Oleh : Isna Ariefatul Muhimmah


Kuhitung setiap waktu, hari, dan pekan

Menanti saat dimana kita akan berpelukan

Menunggu puing-puing rindu berakhir

Menangis pilu bak hati tersambar petir


Disini ada hati yang rindu hadirmu

Tuk melihat senyum yang slalu kutunggu

Menatapmu, jiwa ini tak henti memujimu

Hadirmu tak akan sirna dari anganku


Dambaan indah seketika sirna

Bukan karena kita sudah tak cinta

Kehendak-Nya lah yang menuntut kita

Untuk berpisah secara dewasa

Belajar mengikhlaskan kepergian

Tanpa ada pemberitahuan


Namun aku yakin, rindu ini

Akan berakhir dengan kebahagiaan kembali

Kita akan bersua dengan membawa seribu cerita 

Kisah yang dihiasi tawa dan lara dalam bingkai cinta

Editor: Putri Chakiki

 

Oleh: Isna Ariefatul Muhimmah

Hai,, Namaku Isna Ariefatul Muhimmah, kalian bisa memanggilku Isna. Aku adalah salah satu siswa kelas 8 di MTsN 7 Kediri. Aku juga bagian dari anggota Tim Jurnalistik MTsN 7 Kediri. 

Pada Sabtu, 24 April 2021 Tim Redaksi dari Radar Kediri mengadakan Safari Jurnalistik Ramadhan yang diselenggarakan secara intern di MTsN 7 Kediri. Meski dilangsungkan secara tatap muka, kegiatan ini dilakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan tidak lupa pengecekan suhu tubuh. 

Safari Jurnalis pada kali ini pesertanya merupakan siswa MTsN 7 Kediri yang berjumlah 50 siswa. Kegiatan ini juga dihadiri oleh 5 Tim Redaksi dari Radar Kediri, seorang pembicara dan 4 orang wartawan. Pembicaranya ialah Heri Muda Setiawan dan wartawannya yakni Angel, Ninit, Mustika, Dan Kevin. 

Setiap pembahasan dikupas menyeluruh oleh pemateri. Materi yang disampaikan mengenai Media Massa, apa itu Media Massa, pengetian Media Massa dalam UU, hingga jenis Media Massa. Kemudian berita, apa yang dinamakan berita, unsur berita, serta proses pembuatan berita dan foto jurnalis. sisi pengambilan anggel foto akan mempengaruhi hasil foto. 



Pembicara yang menyampaikan materi juga mengatakan bahwa kunci utama menjadi wartawan adalah kemauan yang kuat dan gagasan pikiran yang menarik. Meskipun memiliki ide yang unik dan menarik untuk dipublikasikan, namun tidak diikuti dengan mental dan niat yang kuat, maka tidak akan bisa menjadi wartawan yang baik.

Kegiatan ini tidak hanya berisi ulasan materi. Di dalamnya juga terdapat kuis dan sesi tanya jawab. Peserta yang menjawab kuis dan bertanya diberi hadiah sebagai apresiasi keberaniannya.  Sebelum kegiatan Safari Jurnalis berakhir pemateri memberikan sebuah tugas. Tugasnya adalah membuat berita tentang kegiatan tersebut. 3 tulisan terbaik akan dimuat dalam koran Radar Kediri. 

Planing kegiatan SJR dimulai pukul 07.30 dan diakhiri pukul 10.00. Aku tidak tau apa sebabnya kegiatan itu berjalan tidak sesuai planing. Kegiatan baru dibuka saat jam menunjukkan pukul 09.00. Karena dimulainya pun molor, otomatis selesainya juga pasti lebih siang dari rencana awal. Kegiatan SJR selesai sekitar pukul 11. 00. 

Setelah selesai aku langsung pulang. Aku sampai dirumah sekitar pukul 11.45, karena jarak rumahku dengan madrasah cukup jauh. Sesampainya dirumah aku bersih-bersih, mandi, shalat. Seusai shalat aku istirahat sembari menunggu jam menunjukkan pukul 12.30. 

Ketika jam sudah menunjukkan 12.30, aku berangkat les. Lesku selesai jam 15.30. Dan karena jarak tempat les dan rumahku lumayan jauh, aku sampai dirumah jam 16.00. Entah kenapa hari itu rasanya sangat melelahkan. 

Aku belum mengerjakan tugas membuat berita tentang SJR tapi karena saking capeknya aku tertidur. Hingga aku terbangun ketika mendengar suara adzan magrib. Seketika aku bangun, membatalkan puasaku/berbuka puasa, kemudian aku mandi dan shalat. Setelah shalat aku berbuka puasa. Seusai berbuka aku mengerjakan tugas berita itu. Semua poin-poin pembahasan sudah aku catat di buku catatanku, jadi aku hanya merangkainya saja. Tidak butuh waktu lama aku menyelesaikannya, cukup 20 menit selesai. 

Ketika aku mengirim teks berita milikku aku hanya berpikir yang terpenting aku sudah menyelesaikan tugasku. Tidak sedikitpun terlintas bahwa tulisanku akan diangkat dalam koran. Tetapi, 2 hari setelah kegiatan SJR diselenggarakan terbitlah koran yang memuat tulisan 3 tulisan terbaik tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika membaca akhir berita, 3 tulisan terbaik salah satunya adalah tulisanku. Aku kaget, tidak menyangka, bersyukur karena tidak terbayangkan tulisanku akan dimuat di dalam koran.

Aku sadar itu semua tidak lepas dari doa dan semangat orang tuaku, doa dan bimbingan guru-guruku, serta dukungan dari teman dan orang terdekat. Tapi yang pasti adalah Ridho dari Tuhan. 

Untuk teman-temanku, kalian harus tetap semangat, usaha dan jangan lupa berdoa. Minta restu orang tua dan guru kalian ketika mengambil keputusan. Apa yang kamu tanam itu yang akan kamu tuai, apapun yang kamu lakukan kamu akan terima hasilnya. Jadi yakinlah, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Semangatttt!!!

Editor: Putri Chakiki

 


Oleh: Putri Chakiki

Hari Kartini diperingati tiap tanggal 21 April. Tanggal tersebut untuk mengenang jasa-jasa Kartini, dalam memperjuangkan ketertindasan kaum wanita. setiap mendengar kata hari kartini yang ada dibenak kita selalu kata-kata "emansipasi wanita" dan "habis gelap terbitlah terang ".

RA Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879. Dia berasal dari keluarga kelas priyayi Jawa. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, merupakan seorang Bupati Jepara. Sedangkan ibunya M.A Ngasirah, berasal dari keluarga yang kental nilai agamanya.

12 Novenber 1903, Pada usia 24 tahun Kartini dijodohkan dengan Bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Suami dari RA Kartini sangat mengerti tentang keinginan RA Kartini. Bahkan beliau membebaskan dan mendukung RA Kartini untuk mendirikan sekolah wanita di timur pintu gerbang perkantoran Rembang, yang saat ini telah menjadi gedung pramuka.

Dari pernikahannya dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, RA Kartini dikaruniai seorang putra bernama RM Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Sangat disayangkan, empat hari setelah RA Kartini melahirkan, tepatnya pada usia 25 tahun, RA Kartini meninggal dunia dan beliau dimakamkan di Desa Bulu, Rembang. 

Kartini adalah simbol emansipasi wanita, Dialah yang memperjuangkan kesetaraan derajat antara wanita dan laki-laki. Kartini sangat menjunjung tinggi ilmu pendidikan dan pengetahuan. Membaca dan menulis merupakan kegemaranya, maka tidak heran kalau kartini memiliki wawasan yang luas dan cerdas.

Wanita memiliki peran yang luar biasa bagi kehidupan. Darinya generasi terbaik bangsa ini dilahirkan. Wanita yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas pula. Kartini masa kini harus gemar membaca. Membaca akan menjadikan wanita berpengetahuan luas dan cerdas serta mampu menghadapi tantangan di masa depan.

Editor; Maghfur

 


Oleh: Putri Chakiki

Saat saya mendapat tugas mendata dan mengajak siswa untuk mengikuti safari jurnalis ada begitu banyak pandangan dari siswa yang merasa takut mengikuti safari jurnalis. Melihat kata-kata jurnalis seperti ada hal yang menakutkan dan menimbulkan kegelisahan di hati mereka.


Ada yg mengatakan "kalau ada apa-apa tim jurnalis harus maju duluan harus rajin nulis, harus slalu meliput berita". dia merasa jadi jurnalis merupakan tugas yang sangat berat sampai-sampai tidak ada waktu untuk bersantai.


Padahal tidak, demikian halnya dengan yang terjadi di tim jurnalis.semua itu tergantung pada individu masing-masing. Kalau mereka mau aktif sudah pasti akan banyak kegiatan yang membuat mereka sibuk. Tapi, kalau mereka tidak mau ambil peran dalam mengerjakan setiap kegiatan sudah pasti mereka akan menganggur. Dan sudah pasti mereka tidak akan mendapatkan tambahan ilmu dan pengalaman dari kegiatan-kegiatan tersebut. 


Padahal ada banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dalam mengikuti kegiatan jurnalistik. Dalam kegiatan jurnalistik diajarkan menulis berita, artikel dan fotografi, kemampuan yang diasah adalah berpikir kritis, analitis, dan detail.

Sebab dalam proses mencari/menggali, mengolah, dan menyampaikan berita kita harus menggunakan kalimat yang efektif, sebagaimana definisi Jurnalistik yang selama ini kita pahami. 

Dalam proses mencari/menggali berita mereka juga akan belajar untuk berpikir kritis, khususnya ketika memetakan pertanyaan. Juga belajar untuk lebih cakap dan luwes bergaul dengan banyak orang.


Sementara ketika mengolah, mereka akan belajar berpikir analitis dan sistematis, bagaimana menyajikan informasi agar mudah dipahami orang lain.

Semua itu sangat berguna sekali bagi siswa itu sendiri. Dengan mengikuti kegiatan jurnalistik kita akan lebih cepat memahami semua mata pelajaran di sekolah, karena sudah terbiasa berfikir kritis, analitis, dan detail.

Editor : Maghfur


Oleh: Putri Chakiki

Negara indonesia merupakan negara yang besar terdapat banyak suku bangsa, budaya, agama, ras, kepercayaan, maupun antargolongan yang tersebar di seluruh wilayah indonesia. Keberagaman masyarakat indonesia merupakan anugerah tuhan yang maha Esa, oleh karena itu seluruh masyarakat harus menerapkan perilaku toleran dalam keberagaman. Keberagaman bukan merupakan unsur perpecahan, namun justru yang menciptakan kesatuan dan persatuan.

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa indonesia yang terdapat pada lambang negara Indonesia. Pancasila. Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa yang harus dijunjung tinggi oleh bangsa indonesia. Semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika menunjukkan bukti keanekaragaman Indonesia yang patut dijunjung tinggi, serta harus saling menghargai perbedaan. Perbedaan bukan berarti untuk saling bermusuhan, melainkan untuk saling mengenal dan bersaudara. Meski sangat beragam, bangsa Indonesia tetap satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Di sinilah arti Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya.

Kata ''Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang terdapat dalam kitab Sutasoma karangan Empu Tantular yang hidup di masa kerajaan majapahit sekitar abad ke-14 M. Jika diartikan “Bhinneka” adalah beragam atau bermacam-macam, “Tunggal” adalah satu, “Ika” adalah itu. arti “beraneka satu itu”. Maknanya, bisa dikatakan bahwa beraneka ragam, tetapi tetap satu jua.

Adapun beberapa makna dari Bhinneka Tunggal Ika dalam berbangsa maupun bermasyarakat adalah sebagai berikut :

- Mendorong semakin kukuhnya persatuan indonesia.

- Mendorong timbulnya kesadaran tentang pentingnya pergaulan.

- Meningkatkan identitas dan kebanggaan sebagai bangsa indonesia.

- Membantu mewujudkan cita-cita leluhur bangsa.

- Meningkatkan nilai kegotongroyongan dan solidaritas.

Sudah sepatutnya kita sebagai bangsa indonesia menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di dalam bangsa Indonesia. Kita sebagai generasi penerus selanjutnya harus bersungguh-sungguh untuk menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

 


Kediri, 10 April 2021. Dengan protokol kesehatan yang ketat, kemarin (9 April 2021)   Kementerian Agama Kabupaten Kediri melaksanakan Rapat Kerja Daerah. Acara yang dilaksanakan di MTsN 5 itu dibuka oleh kepala Kantor Kemenag Kab Kediri, dan diikuti peserta yang terdiri dari Kasi, Kamad, kepala KUA, perwakilan penyuluh, perwakilan pengawas, dan ibu-ibu Darma Wanita Persatuan. 

Acara tersebut sedikit berbeda, kali ini pembaca doa terdiri dari empat agama. Hal ini sesuai dengan instruksi Menteri Agama RI, agar semua acara di kementerian yang melibatkan agama selain Islam. Untuk itu agama lain juga diharapkan  membacakan doa. Dalam Rakerda yang bertema " Percepatan Tranformasi Pelayanan Publik" tersebut doa Agama Islam dibacakan oleh Abdul Kholik Nawawi, Agama Kristen dibacakan Lilik Bopo Lelono, Katolik dibacakan Theodorus Endro, dan agama Hindu Murtaji.


Acara diawali dengan penandatangan pakta integritas oleh kasubag TU, Kasi Pendma, Kasi  Bimas Islam,  Kasi Bimas Katolik, dan Kasi PHU.

Kepala kantor kementerian Agama Kab. Kediri Dr. Zuhri, S.Ag., M.Si. dalam sambutannya, dia ingin menyampaikan oleh-oleh dari Rakernas yang dilaksanakan bersama menteri Agama, diantaranya tentang moderasi beragama, di mana Gus Menteri Agama Yaqut Kholil Qoumas, melauncing tentang doa dalam setiap acara dengan dibacakan oleh agama-agama yang terlibat dalam acara tersebut. Selain itu pria asal Jawa Tengah itu juga menyampaikan 7 hal penting terkait dengan pelayanan publik, di antaranya Moderasi bergama, tranformasi digital, revitalisasi KUA, Ciber University (Islam menjadi barometer dunia, akan dirikan universitas kelas dunia, akan diawali dari Banten, di tempat itu akan dibangun Universitas Syarifudin Banten), Kemandirian Pesantren, toleransi (setiap ASN untuk tidak menyoroti malasah ibadah yang dilakukan oleh orang lain, tak perlu saling berolok-olok), dan Legius Indeks tentang ibadah haji yang akan diupayakan tahun ini. Dalam penutupnya Zuhri mengingatkan kembali tentang integritas ASN untuk bersih melayani dan bebas dari korupsi.


Pria asal Jawa Tengah itu juga menyinggung, tentang PTSP yang digagas oleh kementerian Agama Pusat. Harapannya PTSP bisa menjadi wadah untuk mempercepat pelayanan publik.

Sebelum menutup sambutannya, Zuhri membacakan maklumat atau pakta integritas yang baru saja ditandatangani oleh Kepala seksi, Kepala madrasah, kepala KUA, perwakilan pengawas,  perwakilan penyuluh.



Usai pembukaan diwarnai dengan penyerahan buku moderasi beragama jilid 5 dan sertifikat penulis oleh penerbit CV.  Azkiya dan tim editor Dwi Atmaja, M.Pd. yang di wakili oleh kepala MTsN 7 Kediri kepada Kepala Kantor Kemenag kab kediri dan Kasi Penma.

Reporter : Muhammad Zainuddin

Editor.     : Tim Jurnalistik



Malang, 8 April 2021. Hari kedua workshop perpustakaan sekolah, menghadirkan pemateri dari kantor Arsip dan perpustakaan Jawa Timur. Dalam pernyataannya perpustakaan sekolah  sebagai jantung sekolah atau pendidikan harus berstandar Nasional. Standar ini berfungsi untuk menjamin mutu perpustakaan.

 "Untuk kelangsungan perpustakaan, maka harus dikelola secara baik,  sehingga perpus bisa menjamin kebutuhan bacaan bagi peserta didik." Kata perempuan asli Kediri itu.

Purwati banyak menjelaskan tentang bagaimana mengelola perpustakaan mulai inventaris hingga pelacakan buku di perpustakaan.  Termasuk sistem yang dipakai dalam menyimpan buku.

 Mengelola perpustakaan berbeda dengan toko buku atau taman baca.  Toko buku tidak diklasifikasikan secara detail, demikian pula taman baca tidak perlu diklasifikasi, buku hanya dijajar di rak buku, kemudian bila ingin membaca tinggal mengambil.

 "Namun, selama ini perpustakaan banyak dikelola seperti toko buku, lebih lagi seperti taman baca sehingga buku sulit ditemukan karena dengan klasifikasi yang tidak jelas, buku campur aduk."  jelasnya.

Semetara itu Santoso Margono, dalam materinya yang berjudul tentang Pelayanan dan literasi sekolah menekankan bentuk-bentuk pelayanan yang berstandar Nasional. Dia menjelaskan terdapat lima pelayanan yang harus ada, antara lain, layanan baca di tempat, layanan sirkulasi, layanan bercerita, layanan referensi, dan layanan anak.

"Jika di sekolah bapak ibu belum mencakup ini, maka perpustakaan bapak/ ibu belum berstadar nasional, dan untuk diakreditasi harap dilengkapi," paparnya.


Reporter : M. Maghfur Qumaidi

Editor       : Putri Chakiki

 


Malang,  07 April 2021.  Dinas perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur mengadakan kegiatan  workshop Perpustakaan  Sekolah Menengah Atas. Acara tersebut dilaksanakan di hotel Haris Malang, dibuka oleh Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan kearsipan Provinsi Jatim Drs. Supratomo, M.Si., menjelaskan tentang Trilogi abad 21, yaitu karakter, kompetensi, dan kecakapan literasi. Perserta didik harus ditumbuhkan karakter yang siap beradaptasi dalam situasi yang dinamis, perubahan yang sangat cepat. Kompetensi yaitu mengatasi permasalah yang kompleks, untuk itu siswa harus dimotivasi untuk ikut berorganisasi. Sehingga mampu bekerjasama, berkomunikasi, dan berkolaborasi untuk memecahkan masalah-masalah yang multi dimensi (kompleks). Sedang yang terakhir adalah kecakapan literasi, anak didik harus didorong banyak membaca, menulis, dan mengamati, sehingga mereka mampu berpikir kritis, dan mampu mengubah pikiran pesimis menjadi optimis. Selain itu dia juga menambahkan, tentang pentingnya teknologi informasi.


Sebelum itu, ketua panitia dari dinas perpus dan kearsipan Jatim Dra. Styo Wahyu, M.Pd, menyatakan bahwa, perpustakaan mempunyai peran penting dalam pendidikan, untuk itu sekolah atau madrasah harus mempunyai perhatian besar terhadap perpustakaan. Perpustakaan harus nyaman, menarik, dan diletakkan di tempat yang strategis. Untuk itu pentingnya akreditasi perpustakaan, agar perpustakaan sesuai standar nasional, agar peran dan fungsi perpustakaan benar-benar maksimal.



 Pemateri pertama Dr. Umi Dayati, dari universitas Negeri Malang, mengajak pustakawan lebih optimis untuk mengubah wajah perpustakaan di sekolahnya masing-masing. Dia menyampaikan keprihatinannya tentang kondisi perpustakaan di lembaga pendidikan. "Letaknya di pojok, dekat kamar mandi, sepi, di tempati hantu," kelakarnya.

 Kegiatan yang diikuti oleh 60 sekolah dan madrasah itu berlangsung semarak.    Kegiatan tersebut sebenarnya khusus untuk Sekolah Madrasah Tingkat Atas. Namun, MTsN 7 Kediri ikut diundang dalam kegiatan itu. Sehingga madrasah yang berbeda di jalan Kebonsari kencong kepung itu menjadi satu-satunya peserta dalam workshop tersebut. 

 Dari lingkungan Kemenag yang turut diundang yaitu MAN 3 Kediri, yang dihadiri oleh Susi Wiyati Kepala Perpus MAN 3. Menurutnya dengan workshop harapannya "semakin banyak ilmu. Tapi tambah pusing, karena menjadi tahu. Ternyata kekurangannya masih banyak," ungkapnya.

 Pada akhir acara, Maghfur dari MTsN 7 Kediri menyerahkan buku karya siswanya yang berjudul Destinasi Wisata Bumi Kediri kepada Umi Dayati.

 Reporter: M. Maghfur Qumaidi

Editor : Putri Chakiki



Sekitar enam bulan lalu, di tengah zona pekat Surabaya. Saya, Bapak kepala Madrasah Muhammad Zainuddin, Pak Muksin Zeni, dan Pak Ali Ashar berada di Masjid Kanwil Kemenag Sidoarjo, ingin menemui bapak Kepala Kanwil Kemenag terkait IGMPL Jatim. Namun, beliau ternyata tidak bisa ditemui karena barusan pulang dari dinas luar Kota. Akhirnya kami bertemu dengan kang Anto (Bapak Trianto, Kasi Kelembagaan kemenag Kanwil Jatim) yang juga seorang penulis, sekaligus penggagas lahirnya IGMPL Jatim.


Pak Tri beliau disapa akrab. Kami berbincang santai di serambi Masjid tentang banyak hal, dan tentunya tak jauh-jauh dari masalah literasi di madrasah khususnya, dan Jawa Timur pada umumnya. Beliau memberikan masukan berharga, sekaligus seolah membangunkan kami dari mimpi nikmat.

 Beliau mengatakan, MTsN 7 Kediri harus meningkat lagi, agar tidak hanya mengajarkan menulis buku-buku fiksi saja. Akan tetapi juga non fiksi. Riset adalah salah satu bentuk pengembangan literasi itu, harapannya hasil-hasil riset itu nanti bisa diubah menjadi sebuah buku, dan itu akan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam perjalanan pulang, dalam mobil kami banyak membahas masalah itu, seolah mendapatkan pencerahan di tengah zona merah korona di Jatim.


 Kepala madrasah yang menyukai inovasi itu, akhirnya  membentuk tim, dari guru-guru bidang studi. Dengan penuh semangat tim bergerak membimbing anak-anak.  Hasilnya pada lomba menulis ilmiah yang diadakan SSK mendapatkan juara dua. Tidak hanya itu, tim juga mengirim dalam Ajang Myres yang diadakan oleh kemenag pusat. Namun, gagal. 

Mengingat ini hal baru, tentu  butuh peta jalan agar program  berjalan tepat sasaran.

 Tim pun berusaha bekerja, mengikutsertakan lomba. Di antaranya di MAN 2 kota Kediri tersisih pada babak awal, di MAN 1 kota mampu di 10 besar, dan terpaksa menelan pil pahit tersisih di babak final.

 Tapi bagi kami tidak masalah, karena untuk berhasil tentu butuh proses, tak mungkin tiba-tiba. Tapi setidaknya kami sudah mencoba,.

Penulis: M. Maghfur Qumaidi

Editor : Tim jurnalistik

 


Kediri, 5 April 2021. Satu Minggu yang lalu buku Moderasi Beraga yang ditulis oleh penggerak moderasi di Indonesia telah hadir di MTsN 7 Kediri. Buku ini berbeda dengan buku sebelumnya, selain bersampul wajah presiden RI Joko Widodo, juga diberi pengantar oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas. Dalam pengantarnya kiai asal Rembang Jawa Tengah itu menuliskan, "Bahwa bangsa Indonesia membutuhkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Setiap orang Islam seharusnya menampilkan diri sebagai agen rahmatan lil-'alamin, bukan lil muslimin saja."

Dalam buku jilid 5 ini juga cukup istimewa, karena diseleksi cukup ketat, dan bila tidak sesuai dengan ranbu-rambu serta esensi penulisan pasti dikembalikan. Namun demikian penulis moderasi dari kab kediri cukup dominan, di antaranya kepala Kantor Kementerian Agama Kab kediri, Dr. Zuhri, S.Ag., M.Si., kasi Pendma Kemenag kab kediri, Enim Hartono, M.Pd., Pengawas Kemenag Kab Kediri, Yaqutatun Hamroh, M.Si, Kepala MTsN 7 Kediri,  Muhammad Zainuddin, S.Pd., M.Pd.I, dan tiga guru MTsN 7 Kediri yaitu Sahroeni, S.Pd., M.Si., Arwani,  S.Pd.I., dan M.Maghfur Qumaidi, S.Pd., S.Sos., M.Si.

Setelah menyampaikan buku kepada para guru penulis moderasi  Zainnudin menyampaikan bahwa guru-guru menang sengaja saya motivasi, agar ide-ide tentang moderasi semakin luas dan lengkap, karena setiap orang dalam menulis akan menyoroti masalah moderasi sesuai kapasitas, dan lingkup tugasnya masing-masing. Sehingga tulisan-tulisan itu akan berbeda namun tetap dalam kerangka mengembangkan nilai-nilai washatiyah.




"Tulisan saya dikembalikan untuk perbaikan, kali ini semua tulian harus punya dasar, kita tidak bisa sekedar beropini atau mencari dasar dari link google," kata Arwani guru MTsN 7 Kediri dan juga pengasuh Ponpes di desa Plumpung Kecamatan Kandangan.



Selain menyerahkan buku moderasi, bapak kepala madrasah Washatiyah juga menyerahkan buku Bimbingan dan konseling Islam karya  Dr. Aep Kusnawan, S.Ag., M.Ag., kepada koordinator BK Dra. Sri Poerwati, buku tersebut sebagai alternatif literatur sambil menunggu POP BK Madrasah yang disusun di Yogyakarta tanggal 29 Maret sampai 1April 2021, dan akan diuji publik di Makasar. Di mana POP BK madrasah merupakan panduan BK yang memiliki kekhasan yaitu Islam dan moderat.

Reporter: Muhammad Zainuddin

Editor.    : Tim Jurnalistik

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget